Posts Tagged ‘sma 1 kendal’

August 1st, 2010 By Arif Posted in Intips Reuni

Renungan Reuni

Sebuah tag di facebook dari teman semasa SMA  menulis tentang Reuni dalam dua episode. Saya yakin tulisan ini dalam rangka menyambut Reuni Akbar Alumni 95 SMAN 1 Kendal, sebuah renungan yang saya berharap dapat menjadi dasar mengapa reuni diadakan. Berikut ini tulisannya :

Masa lalu jelas sebuah proses. Dan proses itu bisa bermakna ribuan makna dan kenangan. Bagiku, ketika SMA dulu, kenangan-kenangan itu tetap tak lekang waktu. Kenangan itu tetap hidup mesti rutinitas hidup memakan waktu.

Saya masih ingat betul, siapa guru saya misalnya yang fasih mendendangankan suara” ihu…….”dengan mimik bibir yang khas. Pada guru itulah saya juga mendapatkan wejangan aneh ketika menulis puisi di majalah dinding dengan judul memakai kata “elegi”. “Siapa itu yang nulis pakai kata elegi-elegian di mading ?”, kata dia waktu itu. Aduh, ketika kini, saya merasakan wejangan itu begitu katrok dan abstrak.

Jadi apa pentingnya sebuah reuni ?

Jangan menyederhanakan masalah misalnya masa lalu adalah sejarah. Bagiku, sejarah selalu identik dengan fosil dan bebatuan beku. Sejarah adalah kosakata untuk mati. Sementara reuni, sekali lagi bagiku, akan selalu menghadirkan putik dan bunga. Reuni adalah kosakata untuk hidup.
Engkau mungkin masih bingung, dengan apa yang aku maksudkan. Tapi percayalah, reuni itu bisa berbunga beribu buah manfaat. Buah itu bisa bermakna silaturahmi, jejaringan, paseduluran, dan kekeluargaan.
Lautan kehidupan yang telah engkau arungi selama ini adalah bekal untuk reuni. Engkau telah “pergi”, bahkan terlalu jauh “pergi”. Engkau seperti telah hilang dalam hitungan seperti tahun yang terus berganti, Dan kini saatnyalah sayap kehidupanmu untuk beristirahat sejenak.

Reuni, bagiku, alangkah indahnya ketika “menanggalkan” baju kita. Ketika bertemu, bagiku, aku tak perlu menyebutmu misalnya dengan kata “komandan”, “pak haji”,” pak polisi”,” bu guru”, atau apapun jenis bajumu. Baju itu akan menjadi tembok penghalang yang aneh ketika engkau seumpama masih memakai baju itu dalam bereuni.

Jadi reuni itu, bagiku akan tetap indah, karena aku berangkat hidup pernah mampir di situ (SMA), dan kerinduan untuk mampir ke situ kembali pasti akan selalu memanggil-manggil kembali setiap saat….

Jadi engkau sekarang tahu maksudku bukan ?

Ya, ya, aku hanya ingin mengenalmu apa adanya. Pangkat, jabatan, baju yang kau pakai adalah kesemuan yang nyata, kemayaan yang absolut.
Aku memang tak ingin memanggilmu, misalnya dengan embel-embel profesimu : pak komandan, pak polisi, pak guru, pak camat, pak lurah, atau apapun itu.
Aku hanya ingin mengenalmu dari hatimu, lubukmu, dan sejarah yang telah ku ukir bersamamu.
Maka ketika kau telah menanggalkan apapun yang kau kenakan, maka aku ingin lebih intim mengenalmu. Dan sebaliknya, aku ingin berlari menjauh begitu kau mendekatiku, sementara tanganmu menggenggam sekepal pangkat kehidupanmu.

Aku memang telah mengenalmu dulu, ketika kurun 1992-1995. Tapi sekarang, ketika berbagai atribut mengelayuti pundakmu, kau menjadi terasa sangat asing bagiku. Kau seperti anak yang baru ku kenal.
Aku memang bukan siapa-siapa, dan bukan apa-apa. Dan karena itulah aku juga ingin mengenalmu yang bukan siapa-siapa, dan yang bukan apa-apa.

Ya..pangkat, jabatan, kesuksesan .. itulah yang menjadi alasan mengapa seorang teman yang bekerja satu pabrik dengan saya berkata,. “Ah malu aku kan aku nggak sukses”. Semoga tulisan ini mengingatkan kita tentang reuni, bukan ingin pamer jabatan, kekayaan tapi hanya ingin mengenang 3 tahun bersama, itu saja.

Terima kasih kepada Muhammad Azka, tulisan yang inspiratif teman