Dibaca 11849 kali
January 11th, 2011
By Arif Posted in Puisi, You Need To Know

Balsem-nya Gus Mus

puisi karya gusmus

“Bersastra itu kan kegiatan manusia paling tinggi, melibatkan rasio dan perasaan !” (KH. Achmad Mustofa Bisri )

Saya sudah mengenal twitter jauh sebelum mengenal facebook yang akan ditutup 15 Maret 2011 ini, tapi baru sekarang saya mulai keranjingan twitter, karena di twitter saya bisa menjadi follower orang-orang bijak, terkenal, pengusaha bahkan perampok uang negara. Dari twitter juga saya belajar banyak tentang berbagai hal dengan orang-orang terkenal seperti Gus Mus aka KH. Achmad Mustofa Bisri adalah Kyai, Penyair dan Pelukis.

Ada banyak hal yang saya dapat dari beliau termasuk puisi yang di-tweet secara berseri oleh beliau di @gusmusgusmu.

Berikut ini adalah puisi karya beliau yang entah apa judulnya yang jelas diakhir puisi ini beliau menulis He he, Puisi Balsem! , maka saya berkesimpulan puisi tersebut berjudul PUISI BALSEM

PUISI BALSEM
KH. A. Mustofa Bisri

MUNAJAT. Syahadat dan salatku
bedug yang bertalu-talu
Puasaku jadwal makan dan tidur yang baru
Zakat dan hajiku kupon undian berjuta harapan
(Termasuk musliminkah aku, Tuhan?)

Imanku Qur’an mahal yg kujaga rapi
dalam almari kaca terkunci
agar tetap tampak
tanpa mengganggu gerak
(Termasuk mukmininkah aku, Tuhan?)

Aku memamerkan kekayaan dan berkelahi dengan saudaraku
Menginjak yang lemah dan menjilat yang kuat
Demi harkat dan martabat
Aku berbuat apa saja dan menghalalkan apa saja
Demi kemerdekaan dan kemajuan
(Termasuk muttaqinkah aku, Tuhan?)

Aku biarkan alam dan lingkungan diperkosa
Kebodohan dan kemungkaran merajalela
Demi modernisasi dan ilmu pengetahuan
Aku biarkan isteriku melacur
Ibuku direndahkan dan anak-anakku berkeliaran
Demi kehidupan dan tuntutan zaman
(Termasuk Khaira ummatinkah aku, Tuhan?)

Tuhan, aku takut mmbayangkan
saat ahli sorga berbondong-bondong ke sorga
Dan firman itu menyibak suasana:
“Wamtaazul yauma ayyuhal mujrimuun!”
“Menyingkirlah kamu sekarang hai para bajingan!”
(Tuhan, termasuk bajingankah aku?)

Mengapa Gus Mus suka menulis puisi? dalam account twitternya, Gus Mus pernah menulis bahwa, Tradisi berpuisi sejak zaman Kanjeng Nabi, yang entah kenapa seperti terhenti di masa-masa kiai/ustadz kini. Apakah mungkin karena dawai kalbu yang tak lagi peka, lantaran kondisi lingkungan yang semakin kasar dan ganas? Semakin lapar dan rakus?

Di pesantren diajarkan BALAGHAH, BADIE’, dan BAYAN, ternyata hanya lebih digunakan mengapresiasi keindahan Al-Quran. Tidak berlanjut untuk misalnya, memperindah ungkapan-ungkapan sendiri. Bahkan aku dibilang aneh karena berpuisi. seolah-olah mereka belum pernah membaca kumpulan puisi Imam Ali bin Abi Thalib, kumpulan puisi Imam Syafi’i, kumpulan puisi Sufi Samnun Sang Pencinta, kumpulan puisi “Wasiilah”-Syeikh Abdul Qadir Jailani, dan antologi-antologi puisi ulama lainnya.

Memang, berpuisi di samping memerlukan ilmu alatnya, juga memerlukan ..kelembutan dan kepekaan hati. Mereka yang hatinya digelapi oleh amarah dan dikabuti oleh kebencian, agak sulit dibayangkan mampu berpuisi.

Semua isi tulisan yang bercetak miring saya copy paste dari account twitter @gusmusgusmu aka KH. A. Mustofa Bisri yang beliau tulis secara berseri, semoga menjadi bahan renungan saya dan pembaca sekalian agar lebih baik

lazada

Add Yours